BANDAR LAMPUNG – Menjawab tantangan disrupsi teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Yayasan Xaverius Tanjungkarang menggelar rangkaian kegiatan Sosialisasi Paradigma Baru Pastoral Sekolah sekaligus Bedah Buku “Merapikan Jala Kehidupan di Era AI dan Disrupsi Teknologi” karya RD. Nicolaus Heru Andrianto. Kegiatan bedah buku ini dilaksanakan di enam titik kompleks sekolah Xaverius sepanjang akhir September hingga pertengahan Oktober 2026.
Dalam pengantarnya di setiap lokasi, Ketua Yayasan Xaverius Tanjungkarang, RD. Andreas Sutrisno, menegaskan bahwa pastoral sekolah bertujuan memastikan identitas, spiritualitas, dan nilai tetap hidup karena pendidikan sejatinya memproses manusia menuju transfigurasi manusia (Insan Xaverius yang beriman, humanis, cerdas, jujur, disiplin, dan melayani). Senada dengan itu, RD. Pius Wahyo Adityo Raharjo memaparkan bahwa pastoral sekolah berpusat pada Kristus dan lima pilar Gereja yang wajib diintegrasikan ke dalam seluruh dinamika pembelajaran serta Rencana Kerja dan Anggaran Sekolah (RKAS).
Sementara itu, RD. Nicolaus Heru Andrianto mengajak para pendidik keluar dari jebakan romantisme masa lalu (“kapal tua di tengah badai AI”) dan mengatasi kelelahan eksistensial (burnout). Berangkat dari inspirasi Injil Lukas 5:2-6 dan ensiklik Magnifica Humanitas Paus Leo XIV, Romo Heru mengingatkan bahwa AI hanyalah alat pengolah data, namun tidak pernah bisa menggantikan kasih, empati, hati nurani, dan kehadiran seorang guru.
Rangkaian Pelaksanaan dan Dinamika Tanya Jawab di Enam Lokasi
1. Kompleks Xaverius Way Halim (Selasa, 29 September 2026 | Pukul 13.00–15.00 WIB) Bertempat di GSG Gentiaras Way Halim, kegiatan perdana ini diikuti oleh SDM TK Xaverius Margolestari, TK, SD, dan SMP Xaverius Way Halim. Dalam sesi tanya jawab, Pak Sarji menanyakan kiat merapikan relasi otentik yang kini terasa buatan akibat distraksi gawai, bahkan saat rapat. Romo Heru menjawab bahwa setiap pendidik harus berani membuat pilihan konkret untuk menjaga jarak dan memaksa diri menyediakan waktu hening agar tidak menjadi asing dengan dirinya sendiri.
2. Kompleks Xaverius Pringsewu (Jumat, 2 Oktober 2026) Berlangsung di Aula SMP Xaverius Pringsewu, acara ini dihadiri oleh SDM SMP dan SMA Xaverius Pringsewu, 3 Suster FSGM, serta perwakilan guru SD Fransiskus Pringsewu dan SMP Xaverius Gisting. Dalam sesi diskusi, Pak Rasman (SMP Xaverius Pringsewu) menekankan bahwa Pastoral Kehadiran dan Antropologi Kristiani tidak bisa ditawar dalam mendampingi murid yang terdiferensiasi. Menanggapi hal tersebut, Romo Heru mengapresiasi ketekunan para guru menyiapkan pribadi manusia di tengah keprihatinan atas kesejahteraan pendidik.
3. Kompleks Xaverius Kotabumi (Sabtu, 3 Oktober 2026 | Pukul 09.00–12.00 WIB) Bertempat di Aula SMP Xaverius Kotabumi, kegiatan diikuti oleh SDM TK, SD, SMP Xaverius Kotabumi, Ketua Stasi Kotabumi, Purna Bakti SDM, dan 2 tamu undangan. Dalam sesi tanya jawab, Pak Trias (Pendamping Asrama) menanyakan win-win solution atas kendala biaya ganda (sekolah dan asrama) bagi orang tua dari daerah jauh. Perwakilan Yayasan, Pak Gisik Priambo, menjelaskan bahwa yayasan tengah mengembangkan lembaga sosial legal bernama Xaverius Educaritate untuk menghimpun dukungan alumni demi mewujudkan solidaritas dan subsidiaritas pembiayaan.

4. SMP Xaverius Metro (Senin, 5 Oktober 2026 | Pukul 13.00–16.00 WIB) Dilaksanakan di SMP Xaverius Metro, sesi ini dihadiri oleh SDM Pendidik, Suster, Tenaga Kependidikan unit setempat, dan Umat. Sesi tanya jawab berlangsung filosofis ketika Saudara Nio (siswa) menanyakan mengapa di tengah kemajuan teknologi Tuhan seolah jarang menunjukkan diri-Nya (kepada non-resistant non-believers). Romo Heru dan Romo Sutrisno menjelaskan bahwa Tuhan senantiasa hadir lewat setiap embusan napas dan rahmat-Nya, namun manusia diberi kebebasan kehendak; kehadiran Allah akan nyata dirasakan ketika manusia menghidupi hukum kasih.
5. Kompleks Bandar Lampung, Panjang, Kalianda & Sribhawono (Jumat, 9 Oktober 2026 | Pukul 13.00 WIB–Selesai) Bertempat di Aula SMA Xaverius 1 (Pahoman) Bandar Lampung, acara ini menghimpun SDM dari 7 unit: TK Xaverius Kalianda, TK Xaverius Sribhawono, TK, SD, SMP Xaverius Panjang, serta SMP dan SMA Xaverius Pahoman. Pada sesi tanya jawab, Bu Anna menanyakan cara agar manusia zaman ini tidak kehilangan kemampuan bertanya dan melakukan konfirmasi di tengah distraksi digital dan filosofi egosystem. Romo Heru menegaskan pentingnya budaya literasi (membaca) dan memegang prinsip “saring sebelum sharing” agar tidak tertipu rekayasa AI.

6. Kompleks Xaverius Terbanggi Besar & Gunung Batin (Selasa, 13 Oktober 2026 | Pukul 13.00–16.00 WIB) Rangkaian penutup digelar di Kompleks Xaverius Terbanggi Besar, diikuti oleh SDM dari 6 unit: TK, SD, SMP Xaverius Terbanggi Besar serta TK, SD, SMP Xaverius Gunung Batin. Dalam sesi tanya jawab, Bu Vero Wury menanyakan maksud kutipan Friedrich Nietzsche di halaman 50 bahwa “penyatuan manusia dengan mesin telah menurunkan mutu manusia”. Romo Heru menjawab bahwa teknologi tidak pernah netral karena membawa kepentingan pembuatnya; mutu kemanusiaan akan merosot ketika manusia justru diatur dan dikendalikan oleh mesin.
Menutup seluruh rangkaian kegiatan, RD. Andreas Sutrisno mengajak seluruh pendidik untuk berani berhenti sejenak guna berefleksi, yang dipuncaki pesan inspiratif RD. Nicolaus Heru Andrianto: “ Teknologi boleh berkembang dengan cepat, tetapi kita jangan pernah terlambat untuk mengasihi. Jangan takut hidupmu berakhir, tapi takutlah kalau hidupmu tidak pernah dimulai.“


