Rapat Kerja (Raker) Kepala Sekolah Yayasan Xaverius se-Lampung yang dilaksanakan selama tiga hari, Kamis hingga Sabtu, 3–5 Juli 2025, menjadi momentum refleksi dan perumusan langkah strategis guna menjawab tantangan pendidikan ke depan. Kegiatan yang berlangsung di Kahai Beach, Lampung, ini dihadiri para kepala sekolah dari semua jenjang, pengurus yayasan, serta berbagai divisi strategis. Acara dibuka secara resmi oleh Ketua Yayasan RD. Andreas Sutrisno dengan menekankan pentingnya sinergi dan keberanian dalam menghadapi perubahan.
Hari pertama Raker diisi dengan refleksi mendalam terhadap data hasil kuesioner, pemetaan tantangan, dan identifikasi peluang yang ada di setiap satuan pendidikan. Lima tantangan utama disorot: keterbatasan sarana-prasarana, pengelolaan keuangan, rendahnya kompetensi SDM, budaya kerja yang belum optimal, serta penurunan jumlah peserta didik. Data ini menjadi kompas strategis untuk kembali menyelaraskan program sekolah dengan arah Rencana Strategis (Renstra) Yayasan 2023–2028.
Dalam sesi diskusi reflektif, para peserta diajak kembali pada empat pilar strategis yayasan: kinerja unggul & profesionalisme, mutu hasil pendidikan, karakter dan spiritualitas, serta inovasi dan adaptabilitas. Para peserta mengkaji apakah program yang selama ini berjalan benar-benar mendukung pencapaian Renstra. Hasilnya, sejumlah satuan pendidikan diakui masih berjuang untuk sekadar bertahan, belum sepenuhnya bertumbuh.
Hari kedua menjadi ruang bagi strategi dan komitmen nyata. Berbagai tantangan seperti rendahnya motivasi, kesenjangan generasi, dan krisis regenerasi pemimpin sekolah dibahas secara mendalam. Dalam sesi world café, peserta merumuskan langkah konkret, seperti pelatihan berjenjang, pembinaan SDM berbasis visi misi, serta penguatan budaya kerja positif. Selain itu, disepakati pentingnya membentuk komunitas belajar (Kombel) lintas generasi untuk mengatasi resistensi perubahan.
Tak kalah penting, aspek tata kelola keuangan juga menjadi sorotan. Kepala sekolah dan bendahara didorong menyusun laporan bulanan transparan, membangun unit usaha produktif, serta menjalankan program solidaritas pendidikan. Beberapa ide kreatif mencuat, seperti menyewakan kolam renang dan aula, mendirikan kafe kerja sama dengan mitra lokal, hingga mengoptimalkan promosi melalui media sosial dan alumni.
Di hari ketiga, seluruh peserta merumuskan komitmen bersama sebagai langkah nyata perubahan. Komitmen tersebut mencakup audit fasilitas, pemetaan kompetensi SDM, pelatihan rutin, penguatan budaya kerja harian, serta strategi promosi sekolah yang terukur. Setiap komitmen dilengkapi dengan indikator keberhasilan dan target waktu pelaksanaan hingga tahun 2026.
Selain internalisasi budaya kerja dan peningkatan mutu SDM, Raker juga menyoroti pentingnya citra sekolah di mata publik. Branding sekolah, kualitas pendidikan, dan pendekatan personal dengan masyarakat diakui sebagai kunci menarik minat peserta didik baru. Oleh karena itu, promosi sistematis, pemanfaatan teknologi, dan keterlibatan alumni menjadi bagian penting dalam strategi PPDB.
Rapat Kerja ini ditutup dengan peneguhan komitmen dan seruan kolaboratif dari Ketua Yayasan. Dengan semangat sinode, para peserta diajak untuk menjadikan Renstra bukan sekadar dokumen, melainkan kompas harian dalam berkarya. Harapannya, seluruh sekolah di bawah Yayasan Xaverius mampu bukan hanya bertahan, tetapi juga bertumbuh dan unggul secara berkelanjutan.


