SMP Xaverius 4 Bandarlampung menyelenggarakan Bina Karakter (Binter) bagi 132 siswa kelas 9 tahun ajaran 2023/2024. Bina karakter berlangsung dalam 2 gelombang, 19-21 dan 21-23 Februari 2024 di Rumah Khalwat Ngison Nando Kalianda, Lampung Selatan. Bina Karakter merupakan kegiatan pembinaan yang ditujukan untuk menanamkan nilai baik, mendidik dan membangun peserta Binter supaya dapat tumbuh menjadi pribadi yang baik, bermanfaat bagi diri sendiri dan sesama terutama dalam HK3P (Humanitas, Kecerdasan, Kejujuran, Kedisiplinan, dan Pelayanan.
Binter yang mengangkat tema “Aku dan Masa Depanku” ini berfokus pada bagaimana mengajak dan mengarahkan peserta Binter untuk bisa menyiapkan diri dengan karakter-karakter baik supaya mampu menyiapkan masa depan yang baik. “Apapun kamu nanti akan menjadi, tetaplah menjadi pribadi yang berkarakter HK3P dan berkarakter baik lainnya,” pungkas RD. Pius W. Adityo Raharjo selaku Pastor Pastoral Sekolah sekaligus pemateri dalam sesi pertama Binter: “Spiritualitas Binter”.
Setelah peserta Binter menyadari pentingnya mengembangkan karakter baik dalam diri, pada sesi kedua mereka diajak untuk melibatkan Tuhan dalam perjalanan meraih masa depan. Fr. Damianus Glorasion sebagai pemateri kedua menegaskan, “masa depan memang terlihat gelap gulita, tapi kalau kita menghadapinya bersama Tuhan, maka yang gelap itu akan menjadi terang benderang.”
Pada sesi ketiga, peserta Binter mencoba untuk meraba masa depan dengan dinamika “Rancang Bangun Masa Depan”. Peserta Binter dalam kelompok yang terdiri dari 8-9 orang merancang dan membangun sebuah menara dari bahan kertas koran. Pak Gigih dalam pengantarnya mengingatkan bahwa hanya mereka yang memiliki tujuan jelas yang bisa sampai di tujuan tersebut. “Kalau hidup adalah perjalanan, setiap perjalanan memiliki tujuan, dan tujuan bagaikan anak panah yang membimbing setiap langkah di saat kita melewati aneka persimpangan” pungkas Pak Gigih sekali lagi.
Pada malam harinya, peserta Binter menampilkan pentas seni sebagai sarana penyaluran kreativitas dan ekspresi diri. Sebagai penutup kegiatan hari pertama, Pak Fritz memandu peserta Binter dalam ibadat ungkapan hati dimana mereka diminta untuk menyuarakan apa yang ada di dalam hati.
Hari ke-2, peserta Binter yang beragama Katolik memulainya dengan misa pagi dan peserta Binter non-Katolik melakukan meditasi serta senam pagi lapangan. RD. Pius menyampaikan materi sesi keempat “Dekadensi Moral” yang berisi tentang permasalahan hidup saat ini yang penuh kemunduran dan jatuhnya moral dan karakter manusia. Maka pertobatan serta penyadaran diri betapa pentingnya moral dan karakter menjadi tujuan dalam sesi ini.
Untuk menguatkan karakter, Binter mengunakan sarana dinamika outbound. Outbond berjumlah 6 pos dengan pembagian 5 pos (masing-masing pos menekankan salah satu dari kelima karakter HK3P) per 2 kelompok dan pos terakhir pos kebersamaan. Sebelum itu, Bu Titis menyampaikan pengantar outbound yang menekankan pentingnya menjalani setiap pos dalam kelompok dengan sadar, fokus dan penuh kasih. Kesadaran, fokus dan kasih dalam kelompok langsung diuji melalui makan bersama dalam tumpeng. Pada momen ini karena peserta Binter saling berbagi dan bersukacita dalam menghabiskan makanan yang telah disediakan.
Selama proses outbond, peserta didik sangat antusias dan dengan kerjasama penuh mengikuti aturan permainan yang ada. Kebersamaan dan kepedulian terlihat dan terbentuk dalam momen ini. Setelah outbond selesai, mereka mandi dan bersiap untuk makan snack. Sesi sore hari adalah meditasi horizontal. Pada sesi ini, Pak Fritz dan Bu Titis mengajak peserta didik untuk menempatkan diri secara nyaman dan rileks.
Kegiatan malam adalah kegiatan kebersamaan, namun sebelum itu peserta Binter mengikuti ibadat cinta “Surat kasih dari mereka yang mencintaimu” yang dipimpin oleh Romo Pius. Romo mengajak peserta Binter untuk secara sadar dan penuh kesungguhan menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, serta menyadari bahwa manusia dalam proses hidupnya selalu bersama dengan orang lain yaitu orang tua, teman, guru dan sanak saudara mereka. Di akhir ibadat, peserta saling berpelukan dan meminta maaf pada guru dan teman, serta membuat surat cinta kepada orang tua mereka masing-masing. RD. Pius juga membuka tempat untuk para peserta didik yang ingin mengaku dosa. Kegiatan malam kedua ditutup dengan malam keakraban yakni makan bersama, bernyanyi bersama dan bersenda gurau bersama.
Dengan adanya Binter ini sekolah SMP Xaverius 4 Bandarlampung berharap peserta didik semakin mengenal dirinya, lalu bisa menyadari betapa pentingnya perencanaan hidup yang matang guna menjalani proses kehidupan yang penuh tantangan. Retret yang artinya adalah kembali atau mundur secara khusus mengajak seluruh peserta didik kembali merenungkan peran Tuhan dalam diri dalam keheningan batin yang mendalam. Semoga dengan kegiatan retret/binter yang telah dilakukan, bisa menjadi salah satu cara untuk membantu peserta didik dalam mempersiapkan diri menjalani kehidupan mereka di masa mendatang. (Pastoral Sekolah)


